Senin, 17 November 2025

Debut Perdana Pimpin DPD PDI Perjuangan NTT, Yunus Takandewa Gandeng Akademisi dan Komunitas Orang Muda


Setelah ditetapkan menjadi Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD), PDI Perjuangan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Yunus Takandewa langsung mengundang orang muda, para seniman sastra, Influencer dan akademisi untuk berdiskusi di Sekretariat DPD PDI Perjuangan, Jln. Piet. A. Tallo, Kel. Oesapa Selatan, Kota Kupang. pada Sabtu/ 15 November 2025 dihadapan para dosen, mahasiswa, seniman dan pengurus DPD PDI Perjuangan, Yunus menegaskan tidak pernah akan meninggalkan orang muda. 

“Jujur saya bangga berada di antara Komunitas Sastra, Komunits Seni, Influencer,  ada Tua Adat, adik-adik orang muda sekalian.  Bangga karena saya juga masih muda. Saya sendiri berangkat dari latar belakang aktivis, dan untuk memulai gebrakan partai politik kedepan saya harus kembali ke orang muda. Ini adalah gerak perdana saya sejak dilantik menjadi ketua DPD PDI Perjuangan NTT. Mengapa saya harus kembali ke komunitas orang muda ? Karena Bung Karno sendiri juga meyakini bahwa pemuda adalah sumber inspirasi, gagasan dan perubahan. Bung Karno mengatakan, 1000 orang tua saya cabut Gunung Semeru, tapi 10 pemuda akan kuguncang dunia,” ungkap Yunus dalam sapaannya. 

Ia menambahkan, Pernyataan Bung karno secara historis telah dibuktikan. Dari masa-masa pergerakan, sumpah pemuda, sampai dengan gerakan reformasi tahun 1998. Pemuda selalu menjadi pioner, motor penggerak perubahan. Memang saat ini kita sedang mengalami wafatnya Reformasi yang lahir pada Mei 1998, manakala kekuasaan hari ini memberi penghargaan pahlawan kepada Soeharto. Ini sangat miris bagi kita wahai orang-orang muda, karena perjuangan kita sedang dinodai sebegitu gampangnya.

“Tadi saat masuk saya mendengar banyak kritik buat PDI Perjuangan. Tapi saya sangat berterimakasih karena itulah hakekat daripada demokrasi kita. PDI Perjuangan sangat konsisten dan terbuka mendengar suara rakyat. Beruntung juga saya masuk di ruangan ini tidak pakai jas. Saat saya masuk, saya mendengar kritik, bahwa PDI Perjuangan itu terlalu elitis. Ini sangat luar biasa. Kejujuran seperti ini memberi energi baru bagi kami untuk memperbaiki diri serta mempertegas arah perjuangan kami kedepan,” ujar Yunus.

Menurut Yunus, pilihan bertemu dengan komunitas sastra, para seniman, akademisi dan orang muda membahas tentang politik dan seni adalah sebuah peristiwa dekonstruksi imajinasi perjuangan. Karena sejak menjadi aktivis, orang-orang muda itu adalah kelompok yang kaya akan gagasan, kaya akan ide. Dan sepengetahuan kami yang melakoni dunia politik, orang muda itulah yang membangun dan memberi gambaran imajinasi. Gagasan dan ide itu membangun imajinasi dan imajinasi itu menghantar kita pada sebuah cita-cita besar kedepan. 

“Terimakasih atas seluruh masukan, kritik dan kami akan mencatat ini secara baik. Saya titip pesan kepada teman-teman di DPD PDI Perjuangan agar mencatat dengan sungguh setiap masukan dari komunitas ini, agar dibawa ke rapat pleno DPD, dalam rapat perdana DPD untuk menjadi masukan bahwa partai kedepan ini harus banyak mendengar orang muda,” tegas Yunus. 

Mantan aktivis GMNI Cabang Kupang ini menyampaikan rasa bangganya, karena hari itu bukan hanya 10 pemuda, tetapi ada banyak pemuda yang datang di DPD PDI Perjuangan NTT. Ia berjanji akan terus bersinergi dengan komunitas orang muda. 

“Berikan kami kritik, karena partai ini terbuka. Dan kami akan mulai dengan hal-hal baru. Jikalau partai ini kantornya terbuka, datang saja kita minum kopi, kita bisa bercerita kapan saja. Kasih kami kita-kiat untuk membenahi partai ini kedepan, karena kami sadari betul bahwa PDI Perjuangan adalah partai berideologi kerakyatan. Sebagai manifesto politik, dan episentrum pengabdian kita kedepan,” ungkapnya.

Diskusi berthema ‘Seni dan Politik’ ini dihadiri oleh kelompok Cipayung, GMNI, PMKRI, GMKI, HMI dan beberapa OKP lokal lainnya. Ada pula komunitas sastra,para komedian, pers dan pengurus DPD PDI Perjuangan NTT masa bakti 2025 - 2030. Hadir pula dua Akademisi muda dengan kapasitas mumpuni, Mikhael Rajamuda Bataona dan Veronika Tukan, dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang. Keduanya hadir sebagai pemantik diskusi. Sementara pemandu diskusi adalah Eman K. Leti, salah satu Wakil Ketua Bidang di DPD PDI Perjuangan NTT.

Pada kesempatan yang sama, dosen muda berprestasi, Rajamuda Mikhael mengatakan, PDI Perjuangan dalam arti sebenarnya lebih dekat dengan gagasan karena partai ideologi. Partai yang terkonstitusiaonalisasi adalah PDI Perjuangan. Mereka adalah partai yang menggunakan model pengkaderan dengan sistim ideologi. Mereka punya sekolah partai.  Tetapi menurut Mikhael, belakangan PDI Perjuang ‘tidur’ dan terlena oleh kekuasaan. Mereka lebih cenderung melihat siapa yang berkuasa dan mereka mendapatkan apa. Padahal dala filsafat politik, yang harus dilihat itu adalah bagaimana cara menggunkan kekuasaan.

PDI Perjuangan pada Posisi seperti ini menurut Mikhael, harus kembali ke Seni yang dapat memberi ketenangan bathin. PDI Perjuangan sudah memiliki pohn ilmu pengetahuan di dalam roh partainya. Lebih penting mengawasi kekuasaan daripada merebut kekausaan. +++

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Debut Perdana Pimpin DPD PDI Perjuangan NTT, Yunus Takandewa Gandeng Akademisi dan Komunitas Orang Muda

Setelah ditetapkan menjadi Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD), PDI Perjuangan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Yunus Takandewa langsung mengunda...